Jumat, 29 September 2017

Terus Memperbaiki & Menjaga Akhlak



Terus Memperbaiki & Menjaga Akhlak

Akhlak yang baik adalah salah satu indikator utama yang akan menentukan kualitas keimanan seorang muslim.  Akhlak yang baik akan mengangkat derajat kemuliaan seorang muslim dihadapan RabbNya, selain ketaqwaannya dihadapan Allah SWT.
Begitu banyak ayat dan hadis yang mengajakan tentang kebaikan dan akhlak yang baik. Inti dari Islam adalah bagaimana seorang hamba mampu untuk menghadirkan akhlak yang baik dalam keseharian hidupnya. 

Namun perintah tersebut adalah perintah yang mestinya dipergunakan untuk mendidik diri kita sendiri.  Satu-satunya pihak yang bisa dan harus kita paksa untuk memperbaiki akhlak adalah diri kita sendiri. Dan bagaimana kebaikan akhlak tersebut tampak, akan terlihat dari bagaimana seseorang bersikap kepada orang-orang yang ada di dalam kendalinya : misal kepada pembantu/khadimah kita, seorang suami kepada istrinya, orang tua kepada anak-anaknya yang masih bergantung kepada mereka, kepada tetangga yang lebih miskin, kepada kaum fakir miskin.

Seringkali diri-diri kita mampu menunjukkan sikap baik, sikap manis kepada bos maupun atasan kita, kepada pembeli2/nasabah/klien  utama kita, ataupun kepada para penguasa yang  tengah menikmati tahtanya. Tapi bagaimanakah sikap kita kepada mereka yang lebih lemah dan papa?

Lebih sering kita terjebak.. menilai akhlak pihak lain kepada diri kita, kemudian kita pun merespon akhlak mereka dengan hal yang serupa. Ketika berhadapan dengan seorang panjual yang terlihat  ‘jutek’ terhadap kita.. maka kita pun terpancing untuk merespon juteknya dengan kejutekan yang sama.

Ketika berhadapan dengan konsumen yang kita rasa ‘bawel’.. maka kita pun akan menggerutu dan mengomel.

Kita bahkan seringkali mempertanyakan keikhlasan seseorang yang telah memberikan manfaat kepada kita. Saat menghadiri ta’lim, berhadapan dengan seorang Ustadz yang bersedia membagikan pemahamannya… belum sempat mengungkapkan rasa terimakasih, kita malah mempertanyakan masalah ‘amplop’ … kita anggap Beliau yang menerima amplop kita (yang belum tentu juga cukup besar nilainya) sebagai seorang yang tidak ikhlas dalam dakwahnya.

Sering pula saat tengah menjadi seorang konsumen, kita merasa telah memperkaya saudara kita dengan uang yang kita bayarkan. Sehingga diri kita merasa berhak untuk menuntut pelayanan terbaik dari mereka yang sesungguhnya pun telah mempermudah urusan kita. Lebih sering kita lupa bahwa sesungguhnya apa yang kita bayarkan semata hanyalah kewajiban kita – atas kebaikan dan manfaat yang telah kita terima dari mereka.

Mari kita ubah cara pandang kita. Paksa diri kita untuk terlebih dahulu memperlihatkan akhlak yang lebih baik kepada saudara kita.
 
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS Al Baqarah : 148

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ اَلدُّنْيَا, نَفَّسَ اَللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اَلْقِيَامَةِ , وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ, يَسَّرَ اَللَّهُ عَلَيْهِ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ اَلْعَبْدِ مَا كَانَ اَلْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya." Riwayat Muslim.

Berlomba-lomba dalam kebaikan, sebagaimana yang telah Allah perintahkan.  Saat kita ada pada posisi pembeli, maka jadilah pembeli yang paling menyenangkan yang memberikan kemudahkan kepada si penjual, dengan tidak menawar berlebihan ataupun tidak menuntut pelayanan yang juga berlebihan.
Saat tengah berperan sebagai penjual, maka berusahalah kita menjadi penjual terbaik yang akan memberikan layanan terbaik kepada para pembelinya : dengan harga yang murah, barang yang berkualitas, layanan yang tulus dan menyenangkan.
Ketika berposisi menjadi mustami’ yang tengah menerima ilmu dari para Asatidz, berusahalah kita untuk menjaga kehormatan guru-guru kita. Janganlah mempertanyakan masalah keikhlasan mereka dalam berdakwah, jangan pula mempermasalahkan boleh atau tidaknya mereka menerima amplop dari para jamaahnya. Justru bagaimana kita menjaga kehormatan kepada mereka, dengan berhusnuzan. Berapapun jamaah akan memberikan penghargaannya.. mestinya tak akan mengurangi kemuliaan dakwah para guru kita karena infak yang kita keluarkan sesungguhnya adalah kewajiban kita semua. Infak yang kita bayarkan di jalan dakwah, kebaikannya adalah untuk diri kita sendiri. Dan Allah tak akan pernah menyia-nyiakan kebaikan sekecil apapun yang tengah berusaha kita lakukan.

Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. QS Huud : 115

Dan apabila kita berada pada posisi sebagai guru/Ustadz/Ustadzah yang mendapatkan amanah untuk berbagi pemahaman, tentu juga akhlak terbaik yang perlu kita hadirkan dalam sikap kita. Menanamkan keyakinan bahwa upah terbaik adalah hidayah yang tersampaikan kepada para muridnya. Upah yang paling mulia adalah ganjaran darti Allah yang menaungi keikhlasannya dalam berdakwah. Terus berdakwah dan terus menunaikan amanah, tanpa perlu memperdulikan nilai rupiah yang akan ditemui di akhir aktivitas dakwah yang ditunaikan.

Jadikan diri kita terlebih dahulu sebagai yang harus berbuat baik.. tanpa perlu menuntut maupun mempermasalahkan bagaimana orang lain bersikap kepada kita… karena sesama muslim yang bersaudara adalah saling menjadi jalan surga bagi sesamanya.


َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ اَلدُّنْيَا, نَفَّسَ اَللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اَلْقِيَامَةِ , وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ, يَسَّرَ اَللَّهُ عَلَيْهِ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ اَلْعَبْدِ مَا كَانَ اَلْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya." Riwayat Muslim.

Vita Dwi Utari



Jumat, 24 Maret 2017


CATATAN PERJALANAN UMROH RAMADHAN BACKPACKER BERSAMA MOZAIK TRAVEL BOGOR

Ramadhan 1437 lalu, merupakan pengalaman pertama saya mendapatkan rizki berupa kesempatan untuk menunaikan Umroh pada 15 hari terakhir ramadhan.
Sekalipun telah beberapa kali berkesempatan untuk menunaikan ibadah umroh, rencana keberangkatan umroh di 15 hari terakhir Ramadhan tersebut tetap menjadi sebuah challenges baru yang juga memunculkan rasa nervous di dalam hati.

Perasaan bahagia, ta'jub, harap, haru sekaligus juga khawatir berbaur menjadi satu. Bahagia - ta'jub - dan harap itu menyertai pemahaman akan berbagai keutamaan besar yang menanti terhadap ditunaikannya rangkaian ibadah sunnah pada momentum akhir Ramadhan tersebut di tempat dan waktu yang teramat sangat mustajab.
Namun rasa haru dan khawatir pun menyusup ketika mengingat harus meninggalkan keluarga tercinta di saat momen spesial tersebut, juga saat berfikir tentang bagaimana mempersiapkan dan bagaimana agar mampu menunaikannya dengan kesungguhan terbaik.. karena pasti bukan merupakan aktivitas yang mudah untuk menunaikan ibadah Umroh pada momentum tersebut.
Dapat dibayangkan bagaimana padatnya kondisi Masjidil Haram di waktu akhir ramadhan, sehingga saya dan teman2 jamaah lain pun harus berpikir dan setidaknya bersiap diri dengan berbagai rencana dan pemahaman teknis pelaksanaan ibadah maupun strategi mengatur waktu-waktu aktivitas rutin harian terkait kebutuhan sahur, buka, istirahat, toilet, dan mobilisasi personal maupun team.

Bersama MOZAIK TRAVEL saat itu kami berangkat bergabung dalam sebuah rombongan dengan jumlah reguler - yaitu sekitar 40 orang jamaah. Namun saya bersama beberapa jamaah dari Bogor membentuk sebuah team kecil yang hanya berjumlah 5 orang. Dengan team yang hanya berjumlah 5 orang dengan kesamaan niat dan semangat, membuat kami berharap akan lebih mudah untuk berkoordinasi dan akan lebih fleksibel untuk pelaksanaan program-program ibadah yang direncanakan.

Perjalanan dari tanah air yang diawali dari Yamtama Lounge Bandara Soetta dengan Pesawat Qatar Air landing langsung Madinah, membuat saya dan seluruh jamaah bisa beristirahat dengan optimal selama perjalanan keberangkatan. Pada saat menginjakkan kaki di kota Rasulullah Madinah al Munawarrah, alhamdulillah fisik kami terasa siap untuk menunaikan segenap rangkaian ibadah.
Kami mendapatkan kesempatan stay di Madinah dengan fasilitas hotel Zahra al Khoer selama 5 hari, dengan fasilitas kamar reguler untuk 4 pak jamaah, makan sahur dan buka dengan menu Indonesia. Selama di Madinah, hari-hari kami isi dengan tetap memperbanyak 'itikaf di masjid, shalat wajib, sunah, dan tarawih, tilawah Qur'an, ta'lim.

Hari ke-5 kami pun melaksanakan Umroh dengan prosesi yang sama dengan yang biasa dilaksanakan. Miqat di Birr Ali kemudian thawaf, sa'i dan tahalul.
Yang membedakan dengan waktu di Madinah adalah fasilitas kamar Hotel di Mekkah hanya disediakan untuk keperluan penyimpanan tas dan keperluan toilet bagi jamaah ikhwan (kamar bersama).

Hari-hari di Mekkah saat itu adalah waktu 10 hari terakhir Ramadhan. jumlah jamaah masjidil Haram berlipat dan jauh lebih padat bahkan lebih padat dibandingkan saat musim haji. Kami dalam team kecil mengatur pola ibadah full 'itikaf di masjid dengan memilih space khusus sebagai 'base camp' yang kami tandai dengan sajadah dan tas sandal yang kami isi Qur'an dan sedikit bekal dan peralatan pribadi.
Pola Ibadah-Makan-dan tidur kami atur sebagai berikut :
- Ba'da shubuh tilawah hingga syuruq. Shalat sunah 2 rakaat, istirahat sejenak (keperluan toilet).
- Shalat Dhuha 8 - 12 rakaat setelahnya istirahat (tidur 2-3 jam)
- Persiapan shalat zuhur.
- Ba'da Zuhur tilawah hingga Ashar
- Ba'da Ashar tilawah dan persiapan buka
- Shalat Maghrib - Buka puasa
- Shalat Isya
- Shalat Tarawih hingga jam 23.00
- Ba'da Tarawih makan besar ke foodcourt (makan buka merangkap makan sahur)
- Jam 1.00 Qiyamu Lail
- Waktu Sahur menunaikan sahur dengan Kurma, Roti dan Minuman hangat.
- Qabliyah Shubuh
- Shalat Shubuh

Pola tersebut yang kami terapkan selama 'itikaf di masjidil Haram. Dari waktu ke waktu kami dituntut jeli dalam berstrategi memaintain kondisi fisik agar tetap bugar dan bersemangat dalam menunaikan ibadah. Jeli pula dalam memanfaatkan keterbatasan ruang dan kesempatan di tengah padatnya jamaah. Saling mengingatkan dan saling membantu.

Diluar dari tantangan fisik selama menunaikan Ibadah, kenikmatan berbaur dengan ribuan muslimin dari seluruh penjuru bumi dan menyaksikan betapa semua berusaha menunjukkan kehambaannya kepada Allah dengan ibadah dan harap terbaik mereka, rasa haru dan ta'jub begitu dominan menyelimuti perasaan kami.
Shalat kami pada waktu itu menjadi shalat terindah yang pernah kami tunaikan, tilawah dan zikir kami terasa begitu syahdu, setiap saat rasa dekat kepada Allah Rabbul 'alamin begitu terasa.
Syahdu, haru, khusyu..