Jumat, 24 Maret 2017
CATATAN PERJALANAN UMROH RAMADHAN BACKPACKER BERSAMA MOZAIK TRAVEL BOGOR
Ramadhan 1437 lalu, merupakan pengalaman pertama saya mendapatkan rizki berupa kesempatan untuk menunaikan Umroh pada 15 hari terakhir ramadhan.
Sekalipun telah beberapa kali berkesempatan untuk menunaikan ibadah umroh, rencana keberangkatan umroh di 15 hari terakhir Ramadhan tersebut tetap menjadi sebuah challenges baru yang juga memunculkan rasa nervous di dalam hati.
Perasaan bahagia, ta'jub, harap, haru sekaligus juga khawatir berbaur menjadi satu. Bahagia - ta'jub - dan harap itu menyertai pemahaman akan berbagai keutamaan besar yang menanti terhadap ditunaikannya rangkaian ibadah sunnah pada momentum akhir Ramadhan tersebut di tempat dan waktu yang teramat sangat mustajab.
Namun rasa haru dan khawatir pun menyusup ketika mengingat harus meninggalkan keluarga tercinta di saat momen spesial tersebut, juga saat berfikir tentang bagaimana mempersiapkan dan bagaimana agar mampu menunaikannya dengan kesungguhan terbaik.. karena pasti bukan merupakan aktivitas yang mudah untuk menunaikan ibadah Umroh pada momentum tersebut.
Dapat dibayangkan bagaimana padatnya kondisi Masjidil Haram di waktu akhir ramadhan, sehingga saya dan teman2 jamaah lain pun harus berpikir dan setidaknya bersiap diri dengan berbagai rencana dan pemahaman teknis pelaksanaan ibadah maupun strategi mengatur waktu-waktu aktivitas rutin harian terkait kebutuhan sahur, buka, istirahat, toilet, dan mobilisasi personal maupun team.
Bersama MOZAIK TRAVEL saat itu kami berangkat bergabung dalam sebuah rombongan dengan jumlah reguler - yaitu sekitar 40 orang jamaah. Namun saya bersama beberapa jamaah dari Bogor membentuk sebuah team kecil yang hanya berjumlah 5 orang. Dengan team yang hanya berjumlah 5 orang dengan kesamaan niat dan semangat, membuat kami berharap akan lebih mudah untuk berkoordinasi dan akan lebih fleksibel untuk pelaksanaan program-program ibadah yang direncanakan.
Perjalanan dari tanah air yang diawali dari Yamtama Lounge Bandara Soetta dengan Pesawat Qatar Air landing langsung Madinah, membuat saya dan seluruh jamaah bisa beristirahat dengan optimal selama perjalanan keberangkatan. Pada saat menginjakkan kaki di kota Rasulullah Madinah al Munawarrah, alhamdulillah fisik kami terasa siap untuk menunaikan segenap rangkaian ibadah.
Kami mendapatkan kesempatan stay di Madinah dengan fasilitas hotel Zahra al Khoer selama 5 hari, dengan fasilitas kamar reguler untuk 4 pak jamaah, makan sahur dan buka dengan menu Indonesia. Selama di Madinah, hari-hari kami isi dengan tetap memperbanyak 'itikaf di masjid, shalat wajib, sunah, dan tarawih, tilawah Qur'an, ta'lim.
Hari ke-5 kami pun melaksanakan Umroh dengan prosesi yang sama dengan yang biasa dilaksanakan. Miqat di Birr Ali kemudian thawaf, sa'i dan tahalul.
Yang membedakan dengan waktu di Madinah adalah fasilitas kamar Hotel di Mekkah hanya disediakan untuk keperluan penyimpanan tas dan keperluan toilet bagi jamaah ikhwan (kamar bersama).
Hari-hari di Mekkah saat itu adalah waktu 10 hari terakhir Ramadhan. jumlah jamaah masjidil Haram berlipat dan jauh lebih padat bahkan lebih padat dibandingkan saat musim haji. Kami dalam team kecil mengatur pola ibadah full 'itikaf di masjid dengan memilih space khusus sebagai 'base camp' yang kami tandai dengan sajadah dan tas sandal yang kami isi Qur'an dan sedikit bekal dan peralatan pribadi.
Pola Ibadah-Makan-dan tidur kami atur sebagai berikut :
- Ba'da shubuh tilawah hingga syuruq. Shalat sunah 2 rakaat, istirahat sejenak (keperluan toilet).
- Shalat Dhuha 8 - 12 rakaat setelahnya istirahat (tidur 2-3 jam)
- Persiapan shalat zuhur.
- Ba'da Zuhur tilawah hingga Ashar
- Ba'da Ashar tilawah dan persiapan buka
- Shalat Maghrib - Buka puasa
- Shalat Isya
- Shalat Tarawih hingga jam 23.00
- Ba'da Tarawih makan besar ke foodcourt (makan buka merangkap makan sahur)
- Jam 1.00 Qiyamu Lail
- Waktu Sahur menunaikan sahur dengan Kurma, Roti dan Minuman hangat.
- Qabliyah Shubuh
- Shalat Shubuh
Pola tersebut yang kami terapkan selama 'itikaf di masjidil Haram. Dari waktu ke waktu kami dituntut jeli dalam berstrategi memaintain kondisi fisik agar tetap bugar dan bersemangat dalam menunaikan ibadah. Jeli pula dalam memanfaatkan keterbatasan ruang dan kesempatan di tengah padatnya jamaah. Saling mengingatkan dan saling membantu.
Diluar dari tantangan fisik selama menunaikan Ibadah, kenikmatan berbaur dengan ribuan muslimin dari seluruh penjuru bumi dan menyaksikan betapa semua berusaha menunjukkan kehambaannya kepada Allah dengan ibadah dan harap terbaik mereka, rasa haru dan ta'jub begitu dominan menyelimuti perasaan kami.
Shalat kami pada waktu itu menjadi shalat terindah yang pernah kami tunaikan, tilawah dan zikir kami terasa begitu syahdu, setiap saat rasa dekat kepada Allah Rabbul 'alamin begitu terasa.
Syahdu, haru, khusyu..
Langganan:
Komentar (Atom)

























































